Di zaman yang serba susah begini rasanya senang bila kita hidup berkecukupan, itu bagi kita yang pernah merasakan susahnya hidup. Bagi kita yang terlahir sebagai orang berada rasanya pantas dan memang wajar bila kita hidup selalu senang(itu yg dulu pernah terjadi pd saya). Apalagi dalam kondisi ekonomi makro yang sedang susah2nya(sebagian orang tidak merasakan) dapat mengumpulkan pundi-pundi uang merupakan suatu kesempatan langka dan akan sangat terasa menkjubkan ketika kita melihat sekeliling kita yang tidak sehebat kita sehingga sikap itu yang slalu terpupuk dalam diri jadilah kita manusia yang tamak, belum lagi sistem ekonomi yang kita anut sangat mendukung sikap2 seperti ini. Jadilah perpaduan antara mur dan baut. Antara sebuah sisitem dan (korban) penganut sebuah sistem.
Kehidupan yang saling mengasihi sesama hilang tak berbekas, perasaan tulus kita tidak pernah kita temukan lagi. Memang bukan hilang begitu saja tapi krn atmosfer lingkungan kita yang memang sudah tidak bersahaja lagi dengan kata mengasihi. Tidak akan mempersekutukan Alloh dan mencintai orang lain stulus kita mencintai diri kita sendiri merupakan ajaran nabi-nabi terdahulu dari Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhamad yang telah lekang dimakan waktu. Apabila kita berjuang untuk mengembalikan itu semua, adakah yang salah? ketika kita berusaha mengembalikan tatanan kehidupan sosial seperti sedia kal seperti apa yangtelah digariskan, mengapa tidak?
Tapi memang idealisme akan luntur dimakan jabatan, harta, dan segal materi yang kita usahakan. Andaikan nanti Kita seudh berkeluarga dengan dengan anak 5 sedangkan rumah masih ngontrak, kendaraan masih pula dicicil. Akankah kita memikirkan kehidupan orang lain.
Atau apabila kita sedang menanjak sebagai seorang entrepreneur sukses, "lumbuing padi" kita semakin membesar akankah kita kembali untuk menjadi idealis setelah kita berkecukupan atau kita terus akan sibuk dengan ekspansi usaha kita?
Idealisme sudah tidak berlaku di Zaman seperti ini, banyak contoh manusia idealis tewas tersingkirkan atau hidup di hari tua dengan sengsara. Ketika dulunya mereka memperjuangkan idelaismenya pada siitem yang seperti ini.
Akankah idealisme itu perlu ada?
[picture courtesy from:merahputih.wordpress.com]
02 Mei 2007
Uang dan Idealisme
Diposting oleh walking away di 12.15
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar