29 Mei 2008

Internet Telkomsel Flash

Koneksi lagi lambat, yah maklumlah Endonesia. Sekarang koneksi inet yg saya gunakan adalah TELKOMSEL FLASH yang volume based(bukan yang waktu) dulu awal-awal sy menggunakan jaringan ini rasanya cepat sekali(sebelumnya saya pakai Xplor)tapi lama-lama koneksi berat terutama SIang dan Malam hari. Setelah selang berpa lama akhirnya ketauan juga penyebabnya..

Ternyata sekarang telkomsel mulai membuka akses internet dengan biaya murah, even sekang dengan 125ribu( belum termasuk abonemen dan PPN) bisa mekimati akses internet unlimited. Wow....

Bener-bener murah kan? Tapi bagaiman dengan kualitas layanan? nanti dulu.. Akhir ii saya sering telpon 111 untuk komplain ttg kualitas layanana internet TELKOMSEL FLASH. Dan sampe-sampe telkomsel menyediakan support sendiri untuk komplain layanan TELKOMSEL FLASH dan secara tersirat pihak support mengakui akan overloadnya kapasitas jaringan mereka..

Menyedihkan,, kenapa sebelum digembor-gemborkan program baru ini kemampuan teknisnya tidak diperhatikan?? Tidak adakah kordinasi dari estimasi jumlah pengguna dan kemampuan Teknisnya? setelah kewalahan baru mereka mengatakan akan terus mengembangkan kemampuan layanan TELKOMSEL FLASH, ya kalao bener akan dikembangkan kalaoooo hanya lip service?? Gundulmu...

Kayak gitu kok bisa jadi perusahaan provider jaringan telpon selular terbesar?? Telo..

Wah-wah...


Wah nggak terasa sudah lama banget blog ini terlupakan. dari dulu mau nulis kalo nggak terpaksa rasanya males banget. Kali akhirnya update juga,, karena stress, bosan, dan bingung akhirnya saya menulis untuk membuang kekesalan.

Hari ini puncak kejengkelan saya, mana udah jam 9 malem belum mandi, trading loss terus, kuliah berantakan akhirnya stress... mau tidur nggak bisa, mau ngenet males, trading apalagi, akhirnya nulis aja. Hahaha, suram banget ya kayaknya masa depan gue, mana udah beristri masih kaya gini-gini aja. Aduh,,,

Hari ini saya loss $32, dikit ya? dikit hari ini,, yg kmrn udah ratusan dollar. Ya total hampir mencapai $450 melayang. Termasuk dikit, tapi untuk yg sudah mengenal trading sejak awal 2007 itu merupakan hal yang BODOHHH. Padahal kalau memainkan account demo dalam 3hari saja sudah untung 50% modal, keren kan?? kerenlah gue gitu... (tapi ya gitulah, account demo,,GOBLOKK banget deh)

O iya sekedar informasi sejak awal 2007 saya mendalami forex(foreign exchange), tapi awalnya tidak terlalu serius, akhirnya mulai akhir 2007 baru agak2 serius dan akhirnya sekarang mulai serius, duarius.

Temen-temen yang dulu awal-awal belajar bareng forex aja dah bisa ngumpulin ratusan juta, lah gue malah masih minus.. hahahaha... kasian banget ya? Tapi emangnya gue sedih? Sedikit sih, tapi saya bin gue yakin kalau suatu hari ya kira2 dua bulan lagi saya akan bener-bener berhasil. Masalah modal?? nggak tau deh dari mana. Uang sih banyak,, tapi pada belum percaya, istriku aja nggak percaya. Dia udah tau kalo gue tukang loss :D

Temen-temen yang sudah mulai sukses di forex mulai gaya sekarang, mulai pada pamer. Padahal modalnya juga boleh dapet dari minjem. Ah tau ah,, itu urusan lu. Kalo saya mending modal sendiri,,

08 Oktober 2007

Lama tak menulis



Sudah lama blog ini terbengkalai. Sudah banyak juga cerita-cerita yang terlewatkan, bagaimana aku sekarang bagaimana jogja sekarang :)

Akhir-akhir ini aku semakin menenggelamkan diri dalam dunia trading. Bisnis, itulah passion ku. Sebenarnya sudah lama aku condong ke dunia bisnis. Mungkin dulu teknik lebih mewarnai hidup ku. Terlahir dari kedua orang tua yang berpendidikan eksakata tentunya berpengaruh sedikit banyak pada pendidikan ku.

Namun karena aku sadar sepandai-pandainya kita jadi pegawai maka kita tetaplah bawahan. Aku berpikir betapa untungnya perusahaan yang mempekerjakan oranbgtua ku, sosok yang cerdas, dedikasi tinggi, tidak kemaruk uang, tidak gila jabatan, dan hard worker. Tentulah mereka aset bagi perusahaanya. Tapi bagaimana dengan orangtua ku?

Sedikit bercerita tentang masa kecilku. Aku tidak cukup memilik banyak waktu dengan orng tua karena kesibukan mereka. Itulah harga yang harus di bayar oleh orang tuaku atas gaji yang mereka terima(yg tentunya untuk ku juga). Walau akhirnya ketika posisi yang cukup mapan akhirnya datang, dan orang tua ku tidak perlu kerja se"gila" dulu ketika aku masih kecil.

Hal itu yang melandasiku enggan untuk jadi karyawan. Hampir semua orang menilaiku "gila". Ketika orang lain serius untuk sekolah dan kuliah aku santai-santai saja(walau akhirnya aku seriusi juga). Ketika orang lain takut tidak membuat tugas aku sempat berpikir " memangnya kenapa kalo tidak buat tugas? apa masa depan akan berakhir jika nilai kita buruk?" (meski belakanagn aku sadari juga utk apa tugas itu).

Sekarang aku kembali menyeriusi kuliahku yang sempat terbengkalai, tapi lagi-lagi bisnis memecah pikiranku. Aku tidak konsen. Orang-orang di sekeliling ku berkata "sudah tinggalkan saja bisnis itu dan konsen kuliah" tapi dalam diriku berontak. Mungkin jiwa bisnis, mencari uang lebih dominan dalam diriku dari pada kuliah.

Hingga puncaknya saat ini memasuki liburan aku harus mempelajari materis Jaringan yang sudah ertinggal tapi rasanya sudah malas bangat untuk mempelajarinya :(

02 Mei 2007

Uang dan Idealisme


Di zaman yang serba susah begini rasanya senang bila kita hidup berkecukupan, itu bagi kita yang pernah merasakan susahnya hidup. Bagi kita yang terlahir sebagai orang berada rasanya pantas dan memang wajar bila kita hidup selalu senang(itu yg dulu pernah terjadi pd saya). Apalagi dalam kondisi ekonomi makro yang sedang susah2nya(sebagian orang tidak merasakan) dapat mengumpulkan pundi-pundi uang merupakan suatu kesempatan langka dan akan sangat terasa menkjubkan ketika kita melihat sekeliling kita yang tidak sehebat kita sehingga sikap itu yang slalu terpupuk dalam diri jadilah kita manusia yang tamak, belum lagi sistem ekonomi yang kita anut sangat mendukung sikap2 seperti ini. Jadilah perpaduan antara mur dan baut. Antara sebuah sisitem dan (korban) penganut sebuah sistem.

Kehidupan yang saling mengasihi sesama hilang tak berbekas, perasaan tulus kita tidak pernah kita temukan lagi. Memang bukan hilang begitu saja tapi krn atmosfer lingkungan kita yang memang sudah tidak bersahaja lagi dengan kata mengasihi. Tidak akan mempersekutukan Alloh dan mencintai orang lain stulus kita mencintai diri kita sendiri merupakan ajaran nabi-nabi terdahulu dari Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhamad yang telah lekang dimakan waktu. Apabila kita berjuang untuk mengembalikan itu semua, adakah yang salah? ketika kita berusaha mengembalikan tatanan kehidupan sosial seperti sedia kal seperti apa yangtelah digariskan, mengapa tidak?

Tapi memang idealisme akan luntur dimakan jabatan, harta, dan segal materi yang kita usahakan. Andaikan nanti Kita seudh berkeluarga dengan dengan anak 5 sedangkan rumah masih ngontrak, kendaraan masih pula dicicil. Akankah kita memikirkan kehidupan orang lain.

Atau apabila kita sedang menanjak sebagai seorang entrepreneur sukses, "lumbuing padi" kita semakin membesar akankah kita kembali untuk menjadi idealis setelah kita berkecukupan atau kita terus akan sibuk dengan ekspansi usaha kita?

Idealisme sudah tidak berlaku di Zaman seperti ini, banyak contoh manusia idealis tewas tersingkirkan atau hidup di hari tua dengan sengsara. Ketika dulunya mereka memperjuangkan idelaismenya pada siitem yang seperti ini.

Akankah idealisme itu perlu ada?


[picture courtesy from:merahputih.wordpress.com]

10 April 2007

Jakarta, Humanisme yang Hilang


Sudah(atau mungkin bisa dibilang baru) tiga tahun ini aku meninggalkan Jakarta dan menetap di sebuah kota kecil, Jogja. Terlahir di Jakarta setidaknya membuat sedikit aku paham tentang Jakarta. Dari tempat pacaran yg tenang(dulu..), makan yg murah, tempat-tempat suram. Sebelum meninggalkan Jakarta adalah waktu puncak2nya aku membenci Jakarta sebenarnya bukan hanya krn kondisi Jakarta secara alam dan sosial tapi juga krn alasan-alasan pribadi.

Dari segi alam rasanya polusi di Jakarta sudah hampir tidak mungkin untuk ditolerir. Mungkin kalo anda sudah terbiasa dan tidak memiliki penyakit pernafasan bawaan(e.g. Asthma) tidak akan jadi masalah. Belum lagi masalah air yang sedikit menggenang sekitar 2 meter. Tapi bukan itu saja, masalah kemanusiaan yang sangat menyedihkan juga merupakan faktor penting.

Coba kita berjalan ke arah Jendral Sudirboy eh salah,, Sudirman kemudian Thamrin Lalu ke arah Kuningan. Ketiga jalan yang notabene adalah simbol dari kemapan ibukota Jakarta, tempat ribuan orang mencangkul dan membajak sawah. Sekilas tidak ada kesan kurang sejahtera dari bangsa kita jika kita melewati jalan-jalan protokol itu(kecuali dari tampang2 Polantas-nya yg Rajin menilang kala waktu three ini one dan malam hari selepas jam 9 malem). Gedung2 menjulang tinggi, jalanan mulus bagai Tamara Bulesinki, sistem transportasi ter-modern di kota ini, dll.

Teruskan perjalanan kita berbelok kearah stasiun Pasar Senen. Di sepanjang rel berjajar ratusan rumah kumuh yang belum lama ini sebagian digusur(nggak tau pindah kemana), lalu sekitar stasiun Tanah Abang. Terlihat kontras dari segi kehidupan.
Pola hidup yang terlalu jauh gapnya tentu nggak akan berakibat baik bagi kehidupan sosial. dari mana si miskin berharap sedangkan si kaya berharap deposit ataupun portfolionya terus bertambah. Apa tidak mungkin terjadi seperti halnya revolusi Perancis?

[Picture courtesy from: latief.multiply.com/journal/]

27 Maret 2007

How smart are you?

Iseng-iseng browsing ada test IQ gratis. Setelah test ada 11 halaman lumayan (susah2 gampang) juga sih. Hasilnya nggak buruk-burk amat. ada digambar:

Bisa di coba disini. Siapa tau bisa lebih tinggi lagi. Go Head..:-)

25 Maret 2007

Self-built SOHO Router

Requirements

I wanted to build a nice little access router for my home network. It should:
* do packet filtering
* do traffic shaping
* do NAT
* handle (read: separate) multiple (read: more than one) internal network segments (at least one 10baseT/100baseTX and one 802.11b WLAN segment)
* handle multiple uplinks (e.g. modem/ISDN backup for DSL/PPPoE line)
* handle IPSec encryption/decryption with at least the bitrate of my uplink (for WLAN segments)
* handle IPv6 routing/packet filtering with either native or tunneled IPv6 connectivity
* not consume too much power (-> fan- and noiseless)
* not consume too much space
* be easily updatable
* have a "nice" user interface (for a convenient definition of "nice" :-)

The WRAP Board


I've bought the WRAP.1C-2 board by PC Engines™ and use it with the LEAF Bering-uClibc which comes with a conveniently patched kernel and a lot of useful packages. I started out using Release 2.1, but have since updated to a more current version.

As you can see in the pictures, I started using the hardware in a non-professional type of assembly, and have gradually improved housing.


The WRAP Board Enclosure
Probably due to popular demand, PC Engines now also offers enclosures to fit their WRAP boards. I ordered the red anodized version from tronico.net, and the following is a short summary of the things I like and dislike about the enclosure.

Good:
* Snug fit - access to switch possible, LEDs visible.

# Same type of Philips screwdriver for both kinds of screws.
# Threaded holes available for the screws fixing the board on the enclosure base.
# The rubber pads can be glued over the screw holes without blocking access to them - the board is mounted from the inside.

* Good overall value for the money - it is a simple construction, after all.
* Nicely anodized 1mm aluminium sheet material - the red color is beautiful :) Also, the enclosure is quite sturdy, due to to the angled sheet edges.

Bad:

* You have to remove the board to change the CF medium. No idea yet whether I can machine a suitable opening/mechanism into the case. Oh, and this requires to touch six screws: The two angular SUB-D bolts and the four common "fine thread type" computer screws which hold the board.
* The screws fixing the enclosure lid to the base tap their own threads in the holes on the base when you screw them in. This creates not only the threads in the holes, but also fine aluminium swarf which will fall off and be distributed throughout the whole enclosure, probably later causing short circuits on the circuit board.


# I recommend you you follow this procedure at least twice before mounting the circuit board:

* Screw on the lid with all four screws.
* Remove the four screws, remove the lid.
* Clean the thread holes and remove all aluminium swarf you can see, be it loose or still attached (see picture, taken after three times).
* Clean the screws from swarf collected in the threads.
* Clean out the enclosure, both lid and base.

I am not sure if it is possible to tap proper threads into a 1mm aluminium sheet. If it is, it would be better if you find better screws and tap proper threads for them using the proper thread tapper. However, this is something that the PC Engines should probably address.
# Another issue about the screws fixing the lid on the base: Their head is not flush with the lid surface when you have screwed them in, but sticks out about 1mm.


* If you are very skilled and very careful, it may be possible to machine the screw holes in the lid with a countersink so that the countersunk bolts fit just level with the lid surface. But do not overdo it, or you won't be able to fix the lid with them at all.

OK, after all this musing, here is the short summary of what I would do with my next WRAP enclosure if I want to keep it really neat:

* Spray paint the anodized aluminium material with clear protective cover paint. This should avoid the ugly damaged places where the raw aluminium shows through.
* Replace the screws to hold the lid with precise countersunk bolts with fine threads. Use proper tools (tapper) to tap the threads for them, and use a countersink to have them sink deep enough in the lid to fit level with the lid surface.
* Thoroughly clean all metal filings from the case.
* Only then mount the WRAP circuit board.
Links