Sudah(atau mungkin bisa dibilang baru) tiga tahun ini aku meninggalkan Jakarta dan menetap di sebuah kota kecil, Jogja. Terlahir di Jakarta setidaknya membuat sedikit aku paham tentang Jakarta. Dari tempat pacaran yg tenang(dulu..), makan yg murah, tempat-tempat suram. Sebelum meninggalkan Jakarta adalah waktu puncak2nya aku membenci Jakarta sebenarnya bukan hanya krn kondisi Jakarta secara alam dan sosial tapi juga krn alasan-alasan pribadi.
Dari segi alam rasanya polusi di Jakarta sudah hampir tidak mungkin untuk ditolerir. Mungkin kalo anda sudah terbiasa dan tidak memiliki penyakit pernafasan bawaan(e.g. Asthma) tidak akan jadi masalah. Belum lagi masalah air yang sedikit menggenang sekitar 2 meter. Tapi bukan itu saja, masalah kemanusiaan yang sangat menyedihkan juga merupakan faktor penting.
Coba kita berjalan ke arah Jendral Sudirboy eh salah,, Sudirman kemudian Thamrin Lalu ke arah Kuningan. Ketiga jalan yang notabene adalah simbol dari kemapan ibukota Jakarta, tempat ribuan orang mencangkul dan membajak sawah. Sekilas tidak ada kesan kurang sejahtera dari bangsa kita jika kita melewati jalan-jalan protokol itu(kecuali dari tampang2 Polantas-nya yg Rajin menilang kala waktu three ini one dan malam hari selepas jam 9 malem). Gedung2 menjulang tinggi, jalanan mulus bagai Tamara Bulesinki, sistem transportasi ter-modern di kota ini, dll.
Teruskan perjalanan kita berbelok kearah stasiun Pasar Senen. Di sepanjang rel berjajar ratusan rumah kumuh yang belum lama ini sebagian digusur(nggak tau pindah kemana), lalu sekitar stasiun Tanah Abang. Terlihat kontras dari segi kehidupan.
Pola hidup yang terlalu jauh gapnya tentu nggak akan berakibat baik bagi kehidupan sosial. dari mana si miskin berharap sedangkan si kaya berharap deposit ataupun portfolionya terus bertambah. Apa tidak mungkin terjadi seperti halnya revolusi Perancis?
[Picture courtesy from: latief.multiply.com/journal/]
10 April 2007
Jakarta, Humanisme yang Hilang
Diposting oleh walking away di 20.49
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar